Jumat, 10 Mei 2013

tugas 1 dengan tema "Sistem Pendidikan Di Indonesia Terhadap Tingginya Jumlah Pengangguran"


Nama                   : Muhammad Faisal Latif
Kelas                   : 1EB24
NPM                    : 24212929
Tugas/Tulisan ke :1



Tugas1.       Pengangguran oh Pengangguran

Tulisan Abstrak
Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya. Pengangguran juga disebabkan oleh pendidikan yang kurang merata di Indonesia. Dengan kurang meratanya pendidikan di Indonesia begitu banyak sarjana yang kurang memiliki skill di dalam pekerjaan itu yang menyebabkan menganggur.




Bab 1. PENDAHULUAN

1.A.   Latar Belakang Masalah
Pengangguran adalah salah satu dari sekian banyak permasalahan ekonomi di indonesia, maka dari itu saya mengambil judul “Pengangguran oh Pengangguran”. Pengangguran di Indonesia makin banyak dikarenakan bertambahnya jumah penduduk yang tidak sekolah ataupun yang tidak lulus sekolah. Belum lagi yang tinggalnya di pelosok desa, mereka mempunyai semangat belajar yang luar biasa akan tetapi fasilitasnya kurang memmadai. Seperti : melewati hutan, melewati jembatan yang akan runtuh, melewati sungai yang kadangkala berbahaya untuk mereka akan tetapi mereka tetap semangat. Berbeda dengan yang berada di kota mereka memiliki fasilitas yang lengkap namun banyak dari anak kota yang tidak memiliki semangat belajar yang luar biasa seperti anak pedesaan. Itu salah satu latar belakang masalah pengangguran.
Tingginya tingkat pengangguran juga disebabkan populasi penduduk makin banyak dan makin sedikit lahan kerja di Indonesia. Banyak dari mereka yang sudah lulus sarjana masih menganggur. Itu disebabkan lahan pekerjaan Indonesia makin sedikit. Walaupun tingkat pengangguran sudah menurun sekitar 7,24 juta orang peragustus 2012 atau 6,14%.
Dalam makalah ini, saya akan mengulas sebagian kecil masalah pengangguran di Indonesia dan memberikan solusi yang saya harap bisa bermanfaat bagi pembacanya.

         1.B.   Identifikasi Masalah
1.     Apa faktor penyebab terjadinya pengganguran di Indonesia?
2.     Dengan cara apa pemerintah menangani masalah pengangguran?
3.     Solusi yang tepat untuk mengatasi pengangguran di Indonesia?



Bab 2. LANDASAN TEORI


Pengangguran adalah suatu kondisi di mana orang tidak dapat bekerja, karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Ada berbagai macam tipe pengangguran, misalnya pengangguran teknologis, pengangguran friksional dan pengangguran struktural. Tingginya angka pengangguran, masalah ledakan penduduk, distribusi pendapatan yang tidak merata, dan berbagai permasalahan lainnya di negara kita menjadi salah satu faktor utama rendahnya taraf hidup para penduduk di negara kita. Namun yang menjadi manifestasi utama sekaligus faktor penyebab rendahnya taraf hidup di negara-negara berkembang adalah terbatasnya penyerapan sumber daya, termasuk sumber daya manusia. Seorang pengamat tenaga kerja dari Serang Darlaini Nasution SE mengatakan, ada tiga faktor mendasar yang menjadi penyebab masih tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Ketiga faktor tersebut adalah, ketidaksesuaian antara hasil yang dicapai antara pendidikan dengan lapangan kerja, ketidakseimbangan demand (permintaan) dan supply (penawaran) dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan masih rendah. Penyebab lainnya adalah kualitas SDM itu sendiri yang tidak sesuai dengan yang diharapkan di lapangan, antara lain dikarenakan penciptaan SDM oleh perguruan tinggi yang belum memadai, atau belum mencapai standar yang ditetapkan.
Pengangguran intelektual di Indonesia cenderung terus meningkat dan semakin mendekati titik yang mengkhawatirkan. Pengangguran intelektual ini tidak terlepas dari persoalan dunia pendidikan yang tidak mampu menghasilkan tenaga kerja berkualitas sesuai tuntutan pasar kerja sehingga seringkali tenaga kerja terdidik kita kalah bersaing dengan tenaga kerja asing. Fenomena inilah yang sedang dihadapi oleh bangsa kita di mana para tenaga kerja yang terdidik banyak yang menganggur walaupun mereka sebenarnya menyandang gelar. Salah satu penyebab pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi adalah karena kualitas pendidikan tinggi di Indonesia yang masih rendah. Akibatnya lulusan yang dihasilkanpun kualitasnya rendah sehingga tidak sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Pengangguran terdidik dapat saja dipandang sebagai rendahnya efisiensi eksternal sistem pendidikan. Namun bila dilihat lebih jauh, dari sisi permintaan tenaga kerja, pengangguran terdidik dapat dipandang sebagai ketidakmampuan ekonomi dan pasar kerja dalam menyerap tenaga terdidik yang muncul secara bersamaan dalam jumlah yang terus berakumulasi.



Bab 3. PEMBAHASAN


3.A.   Faktor-faktor penyebab terjadinya Pengangguran. Pengangguran dikelompokkan menjadi 7 macam:
·        Pengangguran friksional (frictional unemployment)
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerja tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
·        Pengangguran konjungtural (cycle unemployment)
Pengangguran konjungtural adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
·        Pengangguran struktural (structural unemployment)
Pengangguran struktural adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktural bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti:
1.     Akibat permintaan berkurang
2.     Akibat kemajuan dan penggunaan teknologi
3.     Akibat kebijakan pemerintah





·        Pengangguran musiman (seasonal Unemployment)
Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim tanam, pedagang durian yang menanti musim durian.
·        Pengangguran siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.
·        Pengangguran teknologi
Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin.
·        Pengangguran siklus
Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian karena terjadi resesi. Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerate demand).
     
     

3.B.   Semakin jumlah penduduk bertambah semakin menyempit lapangan kerja

Pertumbuhan penduduk adalah peningkatan atau penurunan jumlah penduduk suatu daerah dari waktu ke waktu. Salah satu penyebab terjadinya peningkatan penduduk adalah tidak terealisasinya program Keluarga Berencana ( KB ) dan tidak meratanya perekonomian didaerah-daerah tertentu yang menyebabkan perpindahan penduduk dari desa ke kota-kota besar, maka terjadi peningkatan penduduk dikota-kota besar.
Dampak lainnya adalah persaingan mencari kerja semakin berat karna lebih besar minat orang bekerja dibandingkan penyediaan lapangan kerja,itu terjadi karna tidak meratanya pembangunan atau penyediaan lapangan kerja jadi semakin besar minat orang pergi kekota-kota besar untuk sekedar mendapatkan pekerjaan.
Secara umum ada tiga faktor utama demografis yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk diantaranya sebagai berikut :
·        Kelahiran (fertilitas)
·        Kematian (mortalitas)
·        Perpindahan (migrasi)
Dengan pesat nya pertumbuhan penduduk ini banyak terjadinya dampak negatif yaitu sebagai berikut:
·        Terjadinya jumlah pengangguran semakin meningkat
·        Kekurangan pangan yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia sehingga menyebabkan kelaparan dan gizi rendah
·        Terjadinya polusi dan kerusakan lingkungan
·        Terjadinya Kriminalitas yang meningkat serta tingkat kemiskinan meningkat. Ini disebabkan tidak sesuai nya jumlah penduduk dan lapangan kerja yang ada di Indonesia. Serta biaya untuk pendidikan pun meningkat sehingga tidak tercipta kualitas suatu penduduk tersebut dan kuantitas terhadap mendapatkan pekerjaan, malah mengakibatkan kejahatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang harus dipenuhi yaitu pangan.

3.C.   Sistem Pendidikan di Indonesia
          Salah satu faktor pengangguran juga dari pendidikan yang diiraih sesorang untuk bekerja di suatu perusahaan atau lapangan kerja lain. Banyak dari anak anak sekolah yang masih di sma,smp,sd itu kurang mendapatkan fasilitas yang kurang memadai. Apalagi ujian nasional tahun 2013 ini sangatlah kacau. Contohnya sebagai berikut:
1.     Pelaksanaan Ujian Nasional di 11 Provinsi diundur (Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur) hal tersebut dikarenakan masalah pencetakan dan pendistribusian naskah soal ujian.

2.     Soal UN salah kirim. Yang seharusnya di kirim ke dinas pendidikan kota sukabumi malah dikirim ke dinas pendidikan kota depok.

3.     Kertas Soal Ujian dan Lembar Jawaban Mudah Sobek , Banyak siswa peserta ujian nasional mengeluhkan kualitas kertas soal UN yang tipis menyebabkan jika lembar jawaban telah di isi dan ingin dihapus dikhawatirkan rusak.

Seharusnya pemerintah belajar dari tahun tahun sebelumnya. Seharusnya Presiden menegur MenDikBud atau memberhentikan MenDikBud karena telah lalai dalam mengawasi percetakan sehingga menyebabkan keterlambatan Ujian Nasional.
3.D.   Lulusan Perguruan Tinggi yang kurang mempunyai skill
          Banyak dari lulusan lulusan di perguruan tinggi negeri maupun swasta berlomba untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Namun sayangnya perguruan tinggi tersebut tidak mampu menambah skill mahasiswa yang lulus karena hanya mementingkan nilai daripada skill. Padahal di dalam dunia pekerjaan Indonesia lulusan perguruan tinggi yang mempunyai skill jauh lebih penting dibandingkan nilai. Karena pihak perusahaan tidak mau mengambil resiko dikarenakan cuma melihat nilai namun perusahaan melihat skill lulusan lulusan perguruan tinggi.
          Di perguruan tinggi Indonesia mahasiswa lebih banyak mengejar nilai namun tidak mementingkan skill. Pihak perguruan tinggi sendiri tidak mementingkan mahasiswa mau mempunyai skill atau tidak. Namun dia lebih mementingkan uang dibandingkan yang lain. Banyak perguruan tinggi negeri yang uang gedung dan uang persmesternya jauh lebih mahal daripada perguruan tinggi swasta.








4.            KESIMPULAN
Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa penyabab lulusan
sarjana malah menjadikan pengangguran semakin tinggi adalah tidak meratanya pendidikan yang diberikan pemerintah seperti di daerah-daerah terpancil, Kemudian kurangnya fasilitas yang memadai untuk menunjang aktifitas pendidikan yang sedang berlangsung yang menyabakan tidak kondusifnya proses pengajaran.
          Pengangguran yang terjadi di negara kita ini sudah semakin parah. Penyebabnya terjadi dari beraneka ragam. Maka dari itu permasalahan pengangguran ini harus bisa diselesaikan dengan berbagai cara, karena pengangguran menjadi dampak negatif bagi suatu negara tersebut. Karena akibat dari pengangguran ini merusak perekonomian negara ini dan dapat menyebabkan kemiskinan.









Daftar Pustaka



Kamis, 04 April 2013

minggu ke 5 dan 6 struktur produksi .....


Tugas minggu ke 5 dan 6
Struktur Produksi, Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan

1.Struktur Produksi

Struktur produksi adalah logika proses produksi, yang menyatakan hubungan antara beberapa pekerjaan pembuatan komponen sampai menjadi produk akhir, yang biasanya ditunjukkan dengan menggunakan skema. Struktur produksi nasional dapat dilihat menurut lapangan usaha dan hasil produksi kegiatan ekonomi nasional. Berdasarkan lapangan usaha struktur produksi nasional terdiri dari sebelas lapangan usaha dan berdasarkan hasil produksi nasional terdiri dari 3 sektor, yakni sektor primer, sekunder, dan tersier.
Sejalan dengan perkembangan pembangunan ekonomi struktur produksi suatu perekonomian cenderung mengalami perubahan dari dominasi sektor primer menuju dominasi sektor sekunder dan tersier. Perubahan struktur produksi dapat terjadi karena :
·         sifat manusia dalam perilaku konsumsinya yang cenderung berubah dari konsumsi barang barang pertanian menuju konsumsi lebih banyak barang-barang industry
·         Perubahan teknologi yang terus-menerus, dan
·         Semakin meningkatnya keuntungan komparatif dalam memproduksi barang-barang industri.
Struktur produksi nasional pada awal tahun pembangunan jangka panjang ditandai oleh peranan sektor primer, tersier, dan industri. Sejalan dengan semakin meningkatnya proses pembangunan ekonomi maka pada akhir Pelita V atau kedua, struktur produksi nasional telah bergeser dari dominasi sektor primer menuju sektor sekunder.
Manfaat GDB :
-Dapat mengetahui dengan segera apakah perekonomian mengalami pertumbuhan atau tidak.
-Menghitung perubahan harga.

Keterbatasan GDB  :
-Perhitungan GDB dan analisis kemakmuran.
-Perhitungan dan masalah kesejahteraan.
-GDB perkapita dan masalah produk


2.    Pendapatan Nasional

a. Pengertian Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional dapat diartikan sebagai suatu angka atau nilai yang menggambarkan seluruh produksi, pengeluaran, ataupun pendapatan yang dihasilkan dari semua pelaku ekonomi dari suatu negara dalam waktu tertentu. Pendapatan nasional sering digunakan sebagai indikator ekonomi dalam hal :

· Menentukan laju tingkat perkembangan atau pertumbuhan perekonomian suatu negara
· Mengukur keberhasilan suatu negara dalam mencapai tujuan pembangunan ekonominya
· Membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara dengan negara lainnya

b. Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Produksi (GDP)
Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) yaitu jumlah suatu produk yang berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karena jumlah yang didapatkan dari GDP bersifat bruto/kotor.

Rumus :  Y = {(Q1.P1)+(Q2.P2)+...+(Qn.pN)} 
Keterangan :
Y             = Pendapatan Nasional (PDB)
Q1          = Jumlah barang ke-1
P1           = Harga barang ke-1
Q2          = Jumlah barang ke-2
P2           = Harga barang ke-2
Qn          = Jumlah barang ke-n
Pn           = Harga barang ke-n

c. Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Pengeluaran (GNP)
Berdasarkan pendekatan pengeluaran, pendapatan nasional adalah jumlah pengeluaran secara nasional untuk membeli barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu periode, biasanya satu tahun. Hasil perhitungannya dinamakan Produk Nasional Bruto (PNB/GNP). Pengeluaran-pengeluaran tersebut adalah konsumen (C), produsen (I), pemerintah (G), dan masyarakat luar negeri (X-M).

Rumus : GNP/Y = C + I + G + (X-M)

Bila GNP dibagi dengan jumlah penduduk akan menghasilkan pendapatan per kapita.

d. Pendapatan Nasional dengan Pendekatan Pendapatan (NI)
Menurut pendekatan pendapata, pendapatan nasional adalah seluruh pendapatan yang diterima oleh pemilik faktor produksi yang disumbangkan kepada Rumah Tangga Produsen selama satu tahun. Hasil perhitungan pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan ini dinamakan Pendapatan Nasional (PN) atau National Income (NI).

Rumusnya : PN/Y =  r + w + i + p 
Keterangan :
r    = sewa (rent)
w  = upah/gaji (wage)
i    = bunga
p   = laba (profit)




e. Pendapatan Nasional yang siap Dibelanjakan
Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang telah siap untuk dibelanjakan. Kelebihan pendapatan yang digunakan untuk konsumsi akan digunakan sebagai tabungan dan disalurkan menjadi investasi. Nilai Y disposible berasal dari NI (National Income) setelah ditambah dengan pengeluaran pemerintah (Subsidi) dan kemudian dikurangi dengan pjak langsung yang telah ditetapkan pemerintah.

Rumus : Y disposible = NI + Tr – Tx
Keterangan :
Tr           = Subsidi Pemerintah
Tx           = Pajak Langsung

f. Pendapatan Nasional Per Kapita
Pendapatan per kapita biasanya digunakan sebagai salah satu pilihan terakhir untuk melihat kemajuan pertumbuhan perekonomian suatu negara. Pendapatan per kapita diperoleh dengan membagi pendapatan nasional (GNP/GDP) dengan jumlah penduduk di suatu negara.



3.       Distribusi Pendapatan Nasional dan Kemiskinan

a.       Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia
Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas (ketimpangan) distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan. Tidak meratanya distribusi pendapatan memicu terjadinya ketimpangan pendapatan yang merupakan awal dari munculnya masalah kemiskinan. Membiarkan kedua masalah tersebut berlarut-larut akan semakin memperparah keadaan, dan tidak jarang dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kondisi sosial dan politik.
Masalah kesenjangan pendapatan dan kemiskinan tidak hanya dihadapi oleh negara sedang berkembang, namun negara maju sekalipun tidak terlepas dari permasalahan ini. Perbedaannya terletak pada proporsi atau besar kecilnya tingkat kesenjangan dan angka kemiskinan yang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara. Semakin besar angka kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan mengatasinya.
Negara maju menunjukkan tingkat kesenjangan pendapatan dan angka kemiskinan yang relative kecil dibanding negara sedang berkembang, dan untuk mengatasinya tidak terlalu sulit mengingat GDP dan GNP mereka relative tinggi. Walaupun demikian, masalah ini bukan hanya menjadi masalah internal suatu negara, namun telah menjadi permasalahan bagi dunia internasional.
Berbagai upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh dunia internasional, baik berupa bantuan maupun pinjaman pada dasarnya merupakan upaya sistematis untuk memperkecil kesenjangan pendapatan dan tingkat kemiskinan yang terjadi di negara-negara miskin dan sedang berkembang. Beberapa lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia serta lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya berperan dalam hal ini. Kesalahan pengambilan kebijakan dalam pemanfaatan bantuan dan/ atau pinjaman tersebut, justru dapat berdampak buruk bagi struktur sosial dan perekonomian negara bersangkutan.
Perbedaan pendapatan timbul karena adanya perbedaan dalam kepemilikan sumber daya dan faktor produksi terutama kepemilikan barang modal (capital stock). Pihak (kelompok masyarakat) yang memiliki faktor produksi yang lebih banyak akan memperoleh pendapatan yang lebih banyak pula. Menurut teori neoklasik, perbedaan pendapatan dapat dikurangi melalui proses penyesuaian otomatis, yaitu melalui proses “penetasan” hasil pembangunan ke bawah (trickle down) dan kemudian menyebar sehingga menimbulkan keseimbangan baru. Apabila proses otomatis tersebut masih belum mampu menurunkan tingkat perbedaan pendapatan yang sangat timpang, maka dapat dilakukan melalui sistem perpajakan dan subsidi.
Penetapan pajak pendapatan/penghasilan akan mengurangi pendapatan penduduk yang pendapatannya tinggi. Sebaliknya subsidi akan membantu penduduk yang pendapatannya rendah, asalkan tidak salah sasaran dalam pengalokasiannya. Pajak yang telah dipungut apalagi menggunakan sistem tarif progresif (semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi prosentase tarifnya), oleh pemerintah digunakan untuk membiayai roda pemerintahan, subsidi dan proyek pembangunan. Dari sinilah terjadi proses redistribusi pendapatan yang akan mengurangi terjadinya ketimpangan.
Tingginya Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara belum tentu mencerminkan meratanya terhadap distribusi pendapatan. Kenyataan menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat tidak selalu merata, bahkan kecendrungan yang terjadi justru sebaliknya. Distribusi pendapatan yang tidak merata akan mengakibatkan terjadinya disparitas. Semakin besar perbedaan pembagian “kue” pembangunan, semakin besar pula disparitas distribusi pendapatan yang terjadi. Indonesia yang tergolong dalam negara yang sedang berkembang tidak terlepas dari permasalahan ini.

b.      Analisis Distribusi Pendapatan
(1.)             Distribusi Ukuran (personal distribution of income)
Distribusi pendapatan perseorangan (personal distribution of income) atau distribusi ukuran pendapatan (size distribution of income) merupakan indikator yang paling sering digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini secara langsung menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga.
Yang diperhatikan di sini adalah seberapa banyak pendapatan yang diterima seseorang, tidak peduli dari mana sumbernya, entah itu bunga simpanan atau tabungan, laba usaha, utang, hadiah ataupun warisan.
Lokasi sumber penghasilan (desa atau kota) maupun sektor atau bidang kegiatan yang menjadi sumber penghasilan (pertanian, industri, perdagangan, dan jasa) juga diabaikan.
(2.)         Kurva Lorenz
Sumbu horisontal menyatakan jumlah penerimaan pendapatan dalam persentase kumulatif. Misalnya, pada titik 20 kita mendapati populasi atau kelompok terendah (penduduk yang paling miskin) yang jumlahnya meliputi 20 persen dari jumlah total penduduk. Pada titik 60 terdapat 60 persen kelompok bawah, demikian seterusnya sampai pada sumbu yang paling ujung yang meliputi 100 persen atau seluruh populasi atau jumlah penduduk.
Sumbu vertikal menyatakan bagian dari total pendapatan yang diterima oleh masing-masing persentase jumlah (kelompok) penduduk tersebut. Sumbu tersebut juga berakhir pada titik 100 persen, sehingga kedua sumbu (vertikal dan horisontal) sama panjangnya.
Setiap titik yang terdapat pada garis diagonal melambangkan persentase jumlah penerimanya (persentase penduduk yang menerima pendapatan itu terdapat total penduduk atau populasi). Sebagai contoh, titik tengah garis diagonal melambangkan 50 persen pendapatan yang tepat didistribusikan untuk 50 persen dari jumlah penduduk.
Titik yang terletak pada posisi tiga perempat garis diagonal melambangkan 75 persen pendapatan nasional yang didistribusikan kepada 75 persen dari jumlah penduduk.
Garis diagonal merupakan garis "pemerataan sempurna" (perfect equality) dalam distribusi ukuran pendapatan.
(3.)        Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan
Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang relatif sangat sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada.
(4.)              Koefisien Gini dan Ukuran Ketimpangan Agregat
Pengukuran tingkat ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang relatif sangat sederhana pada suatu negara dapat diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara garis diagonal dan kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana kurva Lorenz itu berada.
Koefisien Gini adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan (pendapatan/ kesejahteraan) agregat (secara keseluruhan) yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).
Angka ketimpangan untuk negara-negara yang ketimpangan pendapatan di kalangan penduduknya dikenal tajam berkisar antara 0,50 hingga 0,70.
Untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya dikenal relatif paling baik (paling merata), berkisar antara 0,20 sampai 0,35.

c.       Pertumbuhan dan Pemerataan dalam Konteks Pembangunan Ekonomi Indonesia Selama Ini
Simon Kuznets (1955) membuat hipotesis adanya kurva U terbalik (inverted U curve) bahwa mula-mula ketika pembangunan dimulai, distribusi pendapatan akan makin tidak merata, namun setelah mencapai suatu tingkat pembangunan tertentu, distribusi pendapatan makin merata.



Referensi :
·         http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/04/struktur-produksi-distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan/

minggu ke 4 peta perekonomian indonesia


Minggu ke 4
Peta Perekonomian Indonesia
1.      Keadaan Geografis Indonesia

·         Harus di akui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan, dengan luas keseluruhan +/- 195 sampai dengan 200 juta Ha. Pulau-pulau yang besar merupakan kepulauan yang subur dan kaya akan hasil-hasil bumi dan tambang, dapat di olah dengan prinsip dan untuk masyarakat banyak.
·         Di Indonesia hanya mengenal dua musim. Dengan kondisi iklim yang demikian itu menyebabakan beberapa produk hasil bumi dan industri menjadi sangat spesifik sifatnya. Dengan demikian diperlukan usaha untuk memanfaatkan keunikan produk Indonesia tersebut untuk memenangkan persaingan dipasar lokal maupun dunia.
·         Negara indonesia kaya akan bahan tambang, dan seperti telah sejarah buktikan, salah satu jenis tambang kita, yakni minyak bumi pernah menjadikan negara Indonesia memperoleh dana pembangunan yang sanagt besar, sehingga pada saat itu target pertumbuhan ekonomi kita ditetapkan.

2.      Mata Pencaharian

Dari keseluruhan wilayah yang dimiliki Indonesia, dapat ditarik beberapa hal diantaranya bahwa:
o    Pertama, mata pencaharian pendudukan Indonesia sebagaian besar masih berada di sektor pertanian (agraris), yang tinggal dipedesaan dengan mata pencaharian seperti pertanian, perikananm peternakan dan sejenisnya.
o     Kedua, kontribusi sektor pertanian terhadap GDP (Gross Domestic Product) secara absolut dominan, namun jika dibanding dengan sektor-sektor diluar pertanian menampakkan adanya penurunan dalam prosentase.
Yang perlu di waspadai dalam sektor pertanian ini adalah bahwa komoditi yang dihasilkan dari sektor ini relatif tidak memiliki nilai tambah yang tinggi sehingga tidak dapat bersaing dengan komoditi yang dihasilkan sektor lain (industri), sehingga sebagian masyarakat Indonesia yang memang bermata pencaharian di sektor pertanian (desa) semakin tertinggal dari rekannya yang bkerja dan memiliki akses di sektor industri (kota).

Langkah -langkah yang dapat ditempuh untuk mengatasi diantaranya adalah :
·         Memperbaiki kehidupan pendudukan / petani dengan pola pembinaan dan pembangunan sarana dan prasarananya bidang pertanian.
·         Meningkatkan nilai tambah komoditi pertanian, jika di mungkinkan tidak hanya untuk pasar lokal saja.
·         Mencoba mengembangkan kegiatan agribisnis.
·         Menunjang kegiatan transmigrasi.

3.      Sumber  Daya Manusia
·         Pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan emnimbulkan banyak masalah bagi negara, jika diikuti dengan peningkatan produksi, dan efisiensi di bidang lainnya. Banyaknya penduduk akan menambah beban sumber daya produktif terhadap sumber daya manusia yang belom produktif, yang akibat lanjutnya akan menciptakan masalah-masalah siosial yang cukup rumit.
·         Penyebaran penduduk
Penyebaran penduduk yang tidak merata menyebabkan tidak seimbangnya kekuatan ekonomi secara umum, akibat lanjutan adalah terjadinya ketimpangan daerah miskin dan daerah kaya. Daerah yang tampak menguntungkan akan menjadi serbuan dan perpindahan penduduk dari daerah lain.
·         Angkatan kerja
Tidak seimbangnya beban penduduk antar daerah itu akan berdampak terpusatnya modal didaerah tertentu saja. Dampak lainnya adalah mengumpulnya tenaga kerja di pulau jawa sehingga persaingan tenaga kerja menjadi sangat tinggi. Dengan kondisi tersebut bisa dilihat bahwa upah tenaga kerja akan menjadi rendah.
·         Sistem pendidikan
Sistem pendidikan di indonesia yang masih bersifat umum, untuk dapat lebih disesuaikan dengan disiplin ilmu khusus lebih sesuai dengan tuntutan pembangunan. Sehingga lulusan yang dihasilkan menjadi lulusan yang siap kerja dan bukannya siap ‘latih kembali’.


4.       Investasi
Untuk memperoleh suatu pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam proses pembangunan di Indonesia, terkumpulnya modal dan sumber daya sebagai investasi, menduduki peran yang sangat penting. Dalam kondisi tertentu masih sulit untuk mengharapkan dana investasi dari masyarakat, perlu dilakukan upaya-upaya tambahan guna membantu memenuhi kebutuhan dana investasi pembangunan. Upaya-upaya tersebut adalah :
o    Lebih mengembangkan ekspor komoditi non-migas, sehingga sacara absolut dapat meningkatkan penerimaan pemerintah dari sektor luar negeri
o     Mengusahakan adanya pinjaman luar negeri yang memiliki syarat lunak, serta menggunakannya untuk kegiatan investasi yang menganut prinsip prioritas.
o    Menciptakan iklim investasi yang menarik dan aman bagi para penanam modal asing, sehingga makin banyak PMA yang masuk ke Indonesia
o    Lebih menggiatkan dan menyempurnakan sistem perpajakan dan perkreditan, terutama kredit untuk golongan ekonomi, agar mereka secepatnya dapat berjalan bersama dengan para pengusaha besar dalam rangka peningkatan produktifitas.




Referensi :
·        ARIS BUDI SETYAWAN, PEREKONOMIAN INDONESIA, Universitas Gunadarma